Damai.

Mungkin kau pernah terambang,

Pernah terbentur,

Bahkan sempat terpukul.

 

Lalu kau coba menengadah keatas.

Yang kau lihat berupa keelokan tanpa batas,

Hidup yang terlihat ringkas,

Dan perjalanan dengan jalan pintas.

 

Lantas terjadi perlawanan antar diri.

 

Namun diantara peperangan yang terjadi,

Hanya satu perihal yang harus diyakini.

Berdamailah dengan dirimu sendiri.

 

 

A.

Advertisements

Bersama Jakarta.

Beribu ingatan indah yang menyisihkan serpihan.

 

Duka yang menggerus dan menenggelamkanmu kedalam air mata.

 

Asa yang membentang diantara terpaan yang menghadang.

 

Dan ukiran senyuman yang membuat detakan tidak karuan.

 

Semua kutinggalkan bersama Jakarta,

Beserta kenangan disetiap sudutnya.

 

 

A.

Lebih Punya Hati.

Kau membesuknya seperti bahari senja yang menenangkan,

Namun dirinya menatapmu seperti titik hujan yang menenggelamkan.

 

Dirimu mendekapnya bagaikan terpaan angin malam,

Namun ia memelukmu dengan kekosongan yang mendalam.

 

Nada suaranya selalu membuatmu terbuai,

Namun intonasi bisikanmu hanya seperti petikan satu dawai.

 

Dirimu menyadari,

Bahwa salah satu ada yang lebih punya hati.

Yang memiliki lebih sanubari.

 

 

A.

Diujung Aku Bertanya.

Sudah hampir 1825 hari kita melalui waktu dengan berbagi,

Namun sesekali kita pernah termakan emosi.

 

Sudah hampir 30 purnama pandangan kita terpisahkan dua benua,

Dan adakalanya terjadi kesalah pahaman diantara kita.

 

Sudah ada beberapa titik dimana aku menduga.

Menduga tatapan dan nadamu sudah lenyap.

Tapi aku tidak ingin membenarkan,

Karena mungkin itu hanya perasaan.

 

Sampai diujung aku bertanya.

Aku yang memang benar masih punya hati untukmu,

Atau aku yang hanya terjebak diperjalanan ini bersamamu?

 

 

A.

Kemungkinan.

Pernahkah kau merenung tentang limpahan kemungkinan yang ada?

Kebolehjadian yang tidak kau duga,

Probabilitas yang kau sangka,

Atau peluang yang kau kenal tapi kau sangkal?

 

Jasadnya memang selalu bersamamu.

Semua pesan juga terbalas untukmu.

 

Namun apa kau tahu ada gelegak lain direlung sanubarinya,

Yang membuat kepingan hati terpecah dua?

Mungkin kembali ke-masa lampau yang pernah ada,

Atau tergoyah dengan lainnya yang dibalik kaca.

 

 

A.

Letakkan Dihati.

Kau melihat dirimu bergeming didepan cermin.

Menatap refleksi rautan wajah yang cukup dingin.

 

Dirimu berteriak tanpa bunyi.

Kesal.

Kau kesal karena tidak pernah menaruh nurani sejauh ini.

Perlahan sudah kau tanggalkan,

Demi meninggalkan pertanyaan yang tak ada jawaban.

 

Tidak semua hal harus dimengerti.

Tidak harus dipahami.

Cukup letakkan dihati,

Dan suatu saat akan memberikan arti.

 

 

A.

Jawaban.

Sudah lama kalimat ini terjebak dipikiran.

Melekat diujung ucapan,

Membuat dirimu tak mampu tertidur dalam lelapan.

 

Kau sadar,

Semua hubungan pasti melalui jalan kasar.

Kau tahu,

Kemungkinan jalinan menuju jalan buntu.

 

“Apakah jantungmu berdebar,

dan aliran darahmu bergetar saat bersamaku?”

Melihat bahasa keraguan,

Dirimu menemukan jawaban.

 

 

A.

Ruang.

Kau terdiri dari tiga sudut yang sama.

Ia terbuat dari empat sisi yang serupa.

Kalian memang bisa digabungkan,

Lantaran dirinya masih bisa mengisi ruang.

 

Dimensi dirimu dan dirinya akan selalu stabil,

Maka dibutuhkan usaha untuk dapat menyempil.

 

Namun segala sesuatu pasti mempunyai limit.

Yang jika diperangi akan menjadi rumit.

 

Sudahlah…

Semegah apapun tempat singgahmu,

Sebesar apapun upayamu,

Ia tak akan mampu mengisi sisa ruang kosongmu.

 

 

A.

Tidak Bisa Dihindari.

Sudah kutarik badanku agar tidak jatuh terlalu jauh,

Agar benteng hati ini tidak runtuh.

 

Aku tidak ingin semuanya berjalan terlalu cepat.

Aku ingin semua bisa diperlambat,

Agar aku mengetahui indahnya tanpa duplikat.

 

Namun ada satu hakikat yang tidak bisa dihindari.

Aku hanya takut untuk meraih ujung tali,

Yang pada akhirnya harus diakhiri.

 

 

A.

Perihal yang Kau Dustakan.

Genggamannya mengisi ruang jemarimu.

Elok parasnya membelit perhatianmu.

Hingga ukiran indah senyumannya,

Urung mengetuk pintu ingatanmu.

 

Iya,

Kau lengah akan kehakikatannya.

Kau terbelenggu dikobaran asmaranya.

 

Pada akhirnya,

Diujung detik yang tidak disangka,

Kau tenggelam diluapan air mata.

 

Iya,

Ada satu perihal yang kau dustakan.

Dikala saatnya hujan,

Kau hanya memeluk kekosongan,

Dan membesuknya diingatan.

 

 

A.